
Setelah sebulan lamanya memupuk ibadah khusyuk di Bulan Ramadhan, kini saatnya kita merayakan hari Kemenangan. Ngomongin soal lebaran, ada tradisi yang masih kental dilakukan terutama di Jawa, yaitu sungkeman. Sungkeman yang berasal dari kata ‘sungkem’ secara bahasa artinya bersimpuh atau duduk dengan kedua kaki dilipat ke belakang sebagai perlambangan kerendahan hati. Di saat sungkeman inilah menjadi momen menyampaikan rasa terimakasih dan memohon maaf atas kesalahan yang telah lalu. Makanya, sungkeman ini juga merupakan bentuk haru interaksi sosial dalam keluarga.
Nah, Fobbies, bagaimana interaksi sosial dalam keluarga inilah yang bisa jadi wujud untuk menunjukkan hubungan yang sehat antar anggota keluarga. Untuk memahami apa saja bentuknya dan bagaimana dampaknya, yuk baca 5 contoh diantaranya:
1.Sapaan Sehari-hari
Ternyata tegur sapa keseharian seperti panggilan “Ibu”, “Bapak”, “Bunda”, “Ayah”, “Abang”, “Adik”, “Om”, “Tante”, dan masih banyak lagi merupakan salah satu bentuk interaksi sosial dalam keluarga. Bentuk interaksi sederhana yang dilakukan sehari-hari ini membangun hubungan yang harmonis antar anggota keluarga.
Dengan hubungan harmonis yang terjaga akan menciptakan rasa aman dan percaya sehingga timbullah komunikasi yang sopan dan terbuka. Lalu bagaimana ya Fobbies jika tegur sapa dalam sebuah keluarga tidak terjalin dengan baik? Nah ternyata, tegur sapa yang tidak terjalin dengan baik, nantinya akan menimbulkan kesalahpahaman yang akan memicu konflik dan juga berpengaruh pada menurunnya keterampilan anak dalam berbicara dan mendengar.
2.Gotong Royong Mengerjakan Pekerjaan Rumah
Kegiatan bersih-bersih rumah merupakan hal lumrah yang dilakukan dalam sebuah keluarga, entah bertepatan menjelang perayaan hari besar, seperti lebaran, persiapan untuk menyambut tamu maupun hajatan, atau kegiatan rutin yang dijadwalkan mingguan.
Kegiatan bersih-bersih yang termasuk gotong-royong ini menjadi salah satu interaksi sosial dalam keluarga yang dapat membangun rasa kebersamaan antar keluarga, mengajarkan kemandirian dan rasa tanggung jawab kepada anak, mengasah basic life skill, dan masih banyak lagi. Sementara itu, jika dalam sebuah keluarga tidak diperkenalkan gotong-royong sejak kecil, maka akan muncul rendahnya saling menghargai, anak tumbuh menjadi pemalas, kurangnya rasa kebersamaan dalam keluarga.
3.Berbagi Cerita dan Berkumpul Bersama
Tidak jarang anak sulit bercerita atau mengungkapkan rasa kepada orang tua. Hal tersebut bisa terjadi karena kurangnya keluarga memberikan ruang untuk berbagi cerita dan berkumpul bersama. Salah satu bentuk interaksi sosial dalam keluarga ini dapat menjadi cara untuk mempererat hubungan antar anggota keluarga loh, Fobbies!
Makanya sekedar bercanda dan tertawa bersama, berbicara mengenai bagaimana harinya, bercerita soal pengalaman hidupnya, atau berkumpul bersama jadi kebutuhan yang perlu dilakukan dalam keluarga. Karena selain meningkatkan kebersamaan, alasan berbagi cerita dan berkumpul bersama menjadi sangat penting adalah kebiasaan ini menciptakan kebahagiaan, menjadikan individu dalam keluarga tumbuh dengan positif, dan meningkatkan kesehatan mental karena membantu mengurangi stress dan beban.
4.Kakak Beradik Bermain Bersama
Kegiatan kakak beradik ini merupakan interaksi sosial dalam keluarga yang dapat membangun ikatan yang kuat antar mereka. Kegiatan seru ini juga bisa jadi ide untuk mengisi momen lebaran, apalagi lebih rame karena ada sepupu dan keponakan.
Hubungan yang terjalin baik antara kakak beradik juga berdampak sangat positif pada masing-masing anak, seperti meningkatkan kepercayaan diri, mengambangaan keterampilan sosial dan kognitif, memupuk persaudaraan dan hubungan yang sehat, dan masih banyak lagi.
5.Orang Tua Mendampingi Anak Bermain
Fobbies, orang tua mendampingi anak bermain merupakan interaksi sosial dalam keluarga yang berpengaruh besar dalam perkembangan anak. Memiliki banyak dampak positif seperti, meningkatkan kreativitas dan imajinasi si kecil, melatih kemampuan sosial anak, mendukung optimal perkembangan indra si kecil seperti kemampuan mendengar dan melihat.
Makanya penting bagi orang tua untuk memilih mainan yang tepat untuk mendukung interaksi ini. Nah, Baby Book Contrast bisa jadi perangkat edukasi yang tepat untuk mendampingi anak bermain dengan berbagai manfaat sebagai berikut:
- Membantu mengenali kontras warna serta menstimulasi saraf, khususnya kemampuan visual.
- Memaksimalkan tummy time si kecil.
- Membantu merangsang sensomotorik pada awal perkembangan si kecil.
